Selasa, 08 Juni 2010

Pengantar Ilmu Perpustakaan

Pengantar Ilmu Perpustakaan

Oleh Usup Supriyadi pada Sosial-Politik. Tinggalkan sebuah Komentar

MODUL 1
PENGERTIAN PERPUSTAKAAN

Kegiatan
Belajar 1
Definisi Perpustakaan :
· Pustaka atau buku atau kitab merupakan kumpulan kertas atau bahan sejenis berisi hasil tulisan atau cetakan, dijilid menjadi satu agar mudah membacanya serta berjumlah sedikitnya 48 halaman. Dari kata pustaka terbentuklah kata turunan antara lain perpustakaan, pustakawan, kepustakawanan, kepustakaan, dan ilmu perpustakaan.
· Perpustakaan adalah kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai.
· Pustakawan adalah orang yang bekerja di perpustakaan dan memiliki pendidikan perpustakaan (minimal D2 dalam bidang Ilmu Perpustakaan).
· Kepustakawanan adalah penerapan Ilmu Perpustakaan dalam hal pengadaan, pengolahan, pendayagunaan dan penyebaran bahan pustaka di perpustakaan.
· Fungsi perpustakaan adalah: penyimpanan, pendidikan, penelitian, informasi, dan kultural.
· Sedangkan kepustakaan adalah: bahan perpustakaan yang digunakan untuk menyusun karangan, makalah, artikel, laporan dan sejenisnya.

Kegiatan
Belajar 2
Hubungan Ilmu Perpustakaan, Dokumentasi dan Arsip
Dalam kegiatan belajar dua ini, kita melihat bahwa di samping kegiatan perpustakaan, ada pula kegiatan bidang lain yang mirip bahkan tumpang tindih dengan kegiatan perpustakaan. Kedua bidang itu adalah dokumentasi dan arsip.

Dokumentasi merupakan kegiatan yang semula tumbuh akibat tumbuhnya majalah ilmiah, sementara perpustakaan tidak dapat menangani informasi yang muncul dari majalah ilmiah. Hal ini nampak jelas di Eropa Barat sehingga di samping kegiatan perpustakaan, muncul pula kegiatan dokumentasi yang mengkhususkan diri pada pengolahan isi majalah. Salah satu negara Eropa Barat yang mengalami munculnya dokumentasi ialah Belanda. Karena Belanda pernah menjajah Indonesia, maka Belanda pun memperkenalkan sistem dokumentasi yang ada di negeri Belanda pada Indonesia. Karena di negeri Belanda kegiatan dokumentasi berbeda dengan kegiatan perpustakaan, maka hal tersebut nampak pula pengaruhnya di Indonesia. Hingga kini di Indonesia masih ada perbedaan antara dokumentasi dengan perpustakaan.

Perbedaan tersebut kurang nampak di AS karena penanganan isi majalah dilakukan oleh pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus sehingga di Amerika Serikat makna dokumentasi identik dengan kegiatan perpustakaan.

Dalam perkembangan selanjutnya definisi dokumentasi, seperti yang dinyatakan oleh Federasi Dokumentasi dan Informasi Nasional (FID), mencakup sedemikian rupa sehingga isinya luas sekali. Karena itu untuk memudahkan pembahasan, diberikan tabel perbedaan kegiatan dokumentasi dan perpustakaan.

Perkembangan perpustakaan dimulai dengan pengumpulan berbagai berkas niaga, pahatan, tulisan tangan dan sejenisnya. Dengan dikenalnya teknik pembuatan buku, maka perpustakaan mulai memusatkan diri pada kegiatan pengadaan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, temu balik, dan pendayagunaan buku. Sebagai sebuah pranata masyarakat, perpustakaan juga menghasilkan berbagai berkas, manuskrip, namun seringkali kedua bahan tersebut tidak dianggap sebagai cakupan perpustakaan. Maka di bagian tersebut muncullah kearsipan. Dibandingkan dengan kegiatan dokumentasi, maka kegiatan perpustakaan jelas berbeda dibandingkan dengan kegiatan arsip. Hal ini dibeberkan secara jelas pada tabel dalam modul.

MODUL 2
SEJARAH PERPUSTAKAAN

Kegiatan
Belajar 1
Sejarah Perpustakaan di Dunia Barat
Kapan perpustakan mulai berdiri tidak pernah diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan penelitian arkeologis, perpustakaan telah dikenal sejak peradaban Sumeria sekitar 5.000 tahun Sebelum Masehi. Perkembangan perpustakaan tersebut segera ditiru negara tetangganya seperti Babilonia. Pada waktu itu orang-orang purba menggunakan bahan tulis berupa tanah liat. Mula-mula tanah liat diempukkan, kemudian dibuat lempengan. Sewaktu masih lunak, tanah liat ditulisi, kemudian dikeringkan.

Kerajaan Pergamum berusaha mengembangkan perpustakaan sebagaimana halnya dengan raja-raja Mesir. Karena waktu itu belum ditemukan mesin cetak, maka pembuatan naskah dilakukan dengan cara menyalin. Usaha menyalin naskah dikembangkan oleh kerajaan Pergamum dengan menggunakan bahan tulis berupa papirus. Untuk mencegah agar perpustakaan Pergamum tidak menjadi saingan perpustakaan Iskandaria yang berada di Mesir, maka Mesir menghentikan ekspor papirus ke Pergamum.

Guna menggantikan papirus, Pergamum mengembangkan bahan tulis berupa kulit binatang yang dikeringkan, kemudian ditulis. Kulit yang digunakan terbuat dari kulit domba, sapi disebut parchmen. Parchmen yang baik disebut vellum merupakan bahan tulis hingga abad menengah.

Kegiatan menyalin naskah ini dilakukan pula di pertapaan, sampai pertapaan menyediakan tempat khusus untuk menulis dan menyalin naskah disebut scriptorium. Pertapaan bahkan mengembangkan naskah yang dihiasi dengan gambar miniatur, menggunakan huruf indah disertai dengan warna merah, biru dan emas. Lukisan pada naskah kuno dengan hiasan dan warna-warni itu disebut iluminasi.

Orang-orang Eropa menemukan mesin cetak sekitar abad ke-15. Pada awal penemuan mesin cetak, buku dicetak dengan teknik sederhana. Buku yang dicetak dengan teknik pencetakan sederhana, dicetak antara tahun 1450-1500, disebut incunabula, merupakan buku langka yang banyak dicari orang.

Kegiatan
Belajar 2
Sejarah Perpustakaan di Indonesia
Perkembangan Perpustakaan pada zaman Hindia Belanda:
Perpustakaan Gereja: Perpustakaan Gereja adalah jenis perpustakaan yang pertama kali berdiri pada zaman ini. Perpustakaan gereja yang pertama didirikan sekitar tahun 1643.
Perpustakaan Penelitian: Perpustakaan penelitian tumbuh seiring dengan dikeluarkannya kebijakan Tanam Paksa. Akibat dari Tanam Paksa ini banyak berdiri lembaga penelitian yang membutuhkan informasi tentang tanaman.
Perpustakaan Sekolah: Pada zaman penjajahan Belanda banyak sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan perpustakaan. Pada masa ini pemakai perpustakaan sekolah tidak hanya siswa dan guru tetapi juga masyarakat umum.
Perpustakaan Umum: Perpustakaan umum pada masa ini hanya memberi perhatian pada bahasa daerah dengan menyediakan koleksi dalam bahasa daerah setempat. Sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan Perpustakaan Umum, pihak swasta telah mendirikan ruang baca untuk umum. Masyarakat dapat membaca koleksi yang ada, secara cuma-cuma. Selain ruang baca umum pada masa ini juga berkembang Perpustakaan Sewa.

Perkembangan Perpustakaan pada Zaman Jepang
Pada masa ini perpustakaan di Indonesia mengalami kehancuran, karena Jepang melarang semua buku yang ditulis dalam bahasa Inggris, Perancis dan Belanda. Mereka juga menangkapi semua orang Belanda termasuk Perpustakaan Belanda.
Perkembangan Perpustakaan setelah Kemerdekaan
Perpustakaan Negara: Pada tahun 1948 pemerintah Republik Indonesia mendirikan Perpustakaan Negara yang pertama.

Perpustakaan Umum: Perpustakaan Umum pada masa ini dikenal dengan nama Taman Pustaka Rakyat.

Kegiatan
Belajar 3
Prinsip kepustakaan
Prinsip Kepustakaan adalah:
Perpustakaan diciptakan oleh masyarakat.
Berdasarkan penelitian sejarah, diketahui bahwa tujuan perpustakaan selalu berkaitan dengan tujuan masyarakat.
Perpustakaan selalu berusaha untuk menyimpan dan menyebarkan karya dan pengetahuan masyarakat.
Perpustakaan dilestarikan oleh masyarakat.
Karena perpustakaan diciptakan oleh masyarakat, maka masyarakat pulalah yang melestarikannya.
Perpustakaan bertujuan menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan. Selama ini perpustakaan selalu merupakan gudang ilmu pengetahuan tempat menyimpan hasil karya dari para cerdik pandai. Selain itu perpustakaan juga menyebarluaskan ilmu pengetahuan tersebut dengan cara meminjamkan buku-buku yang dimilikinya pada masyarakat umum.
Perpustakaan merupakan pusat kekuatan.
Perpustakaan terbuka bagi siapa saja.
Perpustakaan umum telah ada sejak abad 7 sebelum Masehi.
Perpustakaan harus tumbuh berkembang.
Perpustakaan selalu berkembang dari waktu ke waktu, tidak hanya dari segi bangunan saja, tetapi juga jumlah koleksi dan jenis pelayanannya.
Perpustakaan Nasional harus berisi semua literatur nasional, dengan tambahan literatur nasional negara lain.
Setiap buku selalu berguna.
Setiap pustakawan haruslah manusia yang berpendidikan.
Pustakawan sejak zaman dahulu adalah orang-orang cerdik.
Peranan seorang pustakawan hanya dapat menjadi penting bilamana peranan tersebut sepenuhnya diintegrasikan ke dalam sistem sosial dan politik yang berlaku.
Seorang pustakawan memerlukan pendidikan, pelatihan dan magang.
Tugas pustakawan untuk menambah koleksi perpustakaannya.
Sebuah perpustakaan harus disusun menurut aturan tertentu, dan harus dibuatkan daftar koleksinya.
Perpustakaan merupakan gudang pengetahuan, maka koleksi perpustakaan harus disusun menurut subjek.
Kemampuan praktis akan menentukan bagaimana subjek-subjek dikelompokkan di perpustakaan.
Perpustakaan harus memiliki katalog subjek.

MODUL 3
PUSTAKAWAN SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL

Kegiatan
Belajar 1
Pustakawan Sebagai Tenaga Profesional
Profesi bermakna lain dengan pekerjaan. Profesi memerlukan syarat pendidikan dan pelatihan berdasarkan batang tubuh ilmu pengetahuan yang diakui oleh bidang yang bersangkutan.

Konsep profesi secara ilmiah mulai dibahas pada abad 17 bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri. Revolusi Industri yang terjadi di Inggris ternyata melahirkan berbagai profesi baru, tidak dikenal sebelumnya. Sebelum itu hanya ada empat profesi tradisional yaitu pendeta atau biarawan, dokter, pengacara dan perwira angkatan darat. Kini profesi semakin bertambah.

Untuk dapat memenuhi syarat sebuah profesi maka harus ada beberapa tolok ukur yang harus dipenuhi yaitu:
adanya asosiasi
pendidikan
isi intelektual
orientasi pada jasa
kode etik
tingkat kemandirian
status
Pustakawan memenuhi syarat sebagai tenaga profesional karena keenam unsur tersebut di atas dapat dipenuhi. Pustakawan mengenal organisasi profesi, mengenal tingkat pendidikan pada universitas mulai dari program sarjana, magister hingga doktor, di dalam pendidikan diberikan bermacam-macam pelajaran baik teori maupun praktik, sebahagian di antaranya berlandaskan teori yang semakin berkembang; orientasi pustakawan adalah memberikan jasa tanpa mengharapkan imbalan uang; ada tingkat kemandirian sebagai sebuah organisasi profesi dan statusnya sebagai tenaga fungsional telah diakui pemerintah RI.

Dalam pembagian pekerjaan, dikenal tugas profesional dan non-profesional. Tugas profesional dilakukan oleh pustakawan sedangkan tugas non-profesional dilakukan oleh mereka yang tidak memperoleh pendidikan khusus kepustakawanan.

Pemisahan tugas antara profesional dengan non-profesional terlihat dalam berbagai pekerjaan perpustakaan seperti pada administrasi umum, manajemen kepegawaian, hubungan masyarakat, pemilihan bahan perpustakaan, pengadaan bahan perpustakaan, penyiangan, pengkatalogan, klasifikasi, penerbitan, pelestarian, tugas informasi, bimbingan pembaca serta tugas peminjaman. Pada kesemua tugas tersebut terdapat perbedaan jelas antara tugas profesional dengan tugas non-profesional.

Kegiatan Belajar 2
Organisasi Profesi
Organisasi pustakawan telah lama ada di Inggris maupun Amerika Serikat. Pada kedua negara itu organisasi pustakawan telah berdiri sejak tahun 1876. Karena usia yang cukup tua itu, maka kedua organisasi pustakawan berhasil memperjuangkan hak-hak pustakawan; termasuk pengakuan pustakawan sebagai tenaga profesional serta ketentuan tentang gaji. Kedua organisasi itu juga menerbitkan majalah yang dibagi-bagikan secara cuma-cuma untuk anggotanya.

Di samping organisasi pustakawan umum, ada pula organisasi pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus dan biro organisasi. Di Inggris, organisasi itu dikenal dengan nama ASLIB, singkatan dari Association of Special Libraries and Information Bureaux, sedangkan di AS bernama Special Library Association.

Di samping organisasi yang berskala nasional, ada pula organisasi berskala lokal, terutama di AS. Di negara tersebut, setiap negara bagian memiliki organisasi lokal. Hal demikian tidak terdapat di Inggris. Berbagai organisasi pustakawan membentuk federasi organisasi.

MODUL 4
JENIS-JENIS PERPUSTAKAAN

Kegiatan
Belajar 1
Mengapa Terjadi Berbagai Jenis Perpustakaan
Adanya berbagai jenis perpustakaan terjadi karena timbulnya berbagai jenis media seperti media tercetak (buku, majalah, laporan, surat kabar) dan media grafis/elektronik seperti film, foto, mikrofilm, video, pertumbuhan literatur yang cepat dan banyak, pertumbuhan subjek dalam arti terjadi fusi berbagai subjek artinya satu subjek pecah menjadi beberapa subjek dan sebaliknya beberapa subjek melebur menjadi subjek baru. Alasan lain, karena kebutuhan pemakai yang berlainan, misalnya keperluan informasi seorang anak SD akan berbeda dengan seorang peneliti kawakan walaupun objeknya sama, misalnya tentang keruntuhan Majapahit.

Karena hal-hal tersebut di atas maka muncullah berbagai jenis perpustakaan seperti perpustakaan internasional, perpustakaan nasional, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus dan perpustakaan umum. Masing-masing perpustakaan memiliki ciri tersendiri, khalayak ramai yang dilayaninya jelas berbeda, terkecuali perpustakaan umum. Karena itu perpustakaan umum memegang peranan penting dalam pemberian jasa bagi umum sehingga Unesco (sebuah badan PBB) perlu mengeluarkan Manifesto Perpustakaan Umum. Dalam manifesto tersebut dinyatakan bahwa perpustakaan umum terbuka bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan ras, kedudukan, warna kulit, agama, kepercayaan, usia, jenis kelamin.

Kegiatan Belajar 2
Badal Lain yang Bergerak dalam Bidang Informasi
Di samping perpustakaan, masih ada pranata lain yang bergerak dalam bidang pengadaan, pengolahan dan pemencaran informasi. Kegiatan lembaga tersebut tidak selalu terpisah dari perpustakaan, malahan bekerja sama memenuhi kebutuhan informasi pemakai.

Lembaga lain di samping perpustakaan yang bergerak dalam bidang informasi adalah pusat informasi, pusat analisis informasi; pusat dokumentasi, pusat referal, clearing house. Di samping itu masih ada pula focal point, national focal point dan bank data. Pada bank data, tekanan utama lebih banyak pada penyediaan data, bukannya informasi maupun dokumen. Sebagai contoh sebuah buku membahas tentang produksi padi Indonesia dari tahun 1969-1993. Keterangan tentang dokumen itu disebut informasi dokumen sedangkan data diambil dari dokumen itu. Jadi bank data menyajikan data tentang panen padi di Indonesia, namun tidak menyediakan informasi tentang dokumen yang memuat data tersebut.

MODUL 5
KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN

Kegiatan
Belajar 1
Kerjasama Perpustakaan
Kerja sama antarperpustakaan adalah kerja sama yang melibatkan dua perpustakaan atau lebih. Kerja sama ini timbul karena pertumbuhan majalah yang luar biasa banyaknya terutama selama satu abad terakhir ini. Pertumbuhan ilmu pergetahuan yang menimbul-kan berbagai cabang ilmu dengan sendirinya muncullah berbagai buku dan majalah dalam disiplin baru tersebut, meluasnya kesempatan pendidikan sehingga semakin banyak orang yang memerlukan informasi, kemajuan dalam bidang teknologi informasi; semakin tingginya kesadaran akan perlunya kerja sama serta tuntutan pemakai yang menghendaki informasi yang cepat, tepat dan murah.

Bentuk kerja sama itu berupa kerja sama pengadaan, spesialisasi subjek, penyimpanan, pertukaran penerbitan, redistribusi terbitan, kerja sama pengolahan, penyediaan fasilitas, penyusunan katalog induk serta tukar-menukar pengalaman antara sesama pustakawan.

Kawasan kerja sama dapat berupa kawasan lokal seperti terbatas pada sebuah propinsi. Regional artinya terbatas pada sebagai sebuah negara misalnya kawasan Indonesia Timur, Indonesia Barat. Nasional artinya mencakup seluruh negara dan regional, misalnya terbatas pada kawasan Asia Tenggara saja atau Asia Timur bahkan juga Asia Pasifik serta internasional.

Kegiatan Belajar 2
Jaringan Informasi
Pengertian jaringan mencakup beberapa arti, tergantung pada sudut pandang masing-masing. Di kalangan pustakawan, pengertian jaringan dapat mengacu pada perangkat keras, perangkat lunak, proyek, badan maupun sistem komunikasi.

Seringkali istilah jaringan perpustakaan dibedakan dengan istilah kerja sama perpustakaan. Istilah jaringan merupakan bentuk lain dari kerja sama perpustakaan dengan tambahan penggunaan teknologi telekomunikasi dan komputasi. Definisi lain mengatakan, jaringan informasi mencakup berbagai badan tidak saja perpustakaan, melainkan badan lain yang juga bergerak dalam bidang informasi seperti pusat dokumentasi, pusat referal, pusat analisis informasi dan sejenisnya.

Di Indonesia, jaringan dokumentasi dan informasi dimulai pada tahun 1971 dengan pembentukan empat jaringan dokumentasi dan informasi, masing-masing dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, biologi dan pertanian, kedokteran dan kesehatan serta ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Kini jumlah tersebut berkembang. Bila dihitung jaringan dokumentasi dan informasi yang bergerak dalam bidang data bibliografis, maka jumlah tersebut berkutat sekitar duapuluhan. Ada jaringan dokumentasi dan informasi yang aktif, ada pula yang tidak aktif, ada jaringan yang diam selama beberapa tahun kemudian tiba-tiba muncul kembali. Dalam modul ini tidak dibahas jaringan informasi yang bergerak dalam bidang data numerik serta jaringan informasi pada tingkat regional dan internasional.

MODUL 6
JASA RUJUKAN DAN BUKU REFERENS

Kegiatan
Belajar 1
Jasa Referens
Jasa referens dapat pula disebut jasa rujukan karena pada umumnya pustakawan harus merujuk pada bahan pustaka tertentu dalam menjawab pertanyaan pemakai.

Jasa referens dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu:
Jasa dasar: yang termasuk jasa ini adalah pemberian informasi umum, penyediaan informasi khusus, bantuan dalam menggunakan katalog dan jasa bantuan penggunaan buku rujukan.
Jasa yang lazim dilaksanakan: yang termasuk jasa ini adalah pinjam antarperpustakaan, tandon buku, orientasi perpustakaan serta instruksi bibliografi, kunjungan perpustakaan, menyelenggarakan pameran, jasa bimbingan pembaca, jasa pengindeksan dan abstrak, kompilasi bibliografi, dan lain-lain.
Jasa yang jarang dilakukan: yang termasuk jasa ini adalah pameran majalah mutakhir, reproduksi dokumen, jasa terjemahan dan jasa referal.

Kegiatan Belajar 2
Sumber Informasi dan terbitan pemerintah
Buku referens adalah buku yang menjadi acuan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pemakai. Buku referens mempuyai beberapa ciri-ciri khusus, yaitu:
ditujukan untuk keperluan konsultasi
tidak dimaksudkan untuk dibaca secara tuntas
terdiri atas entri yang terpotong-potong
biasanya tidak dipinjamkan
disusun untuk memudahkan penelusuran secara cepat.

Buku referens merupakan buku yang digunakan untuk memberikan informasi seketika, lazimnya disimpan di bagian referens. Buku referens mencakup kamus, ensiklopedia, direktori, buku tahunan, peta, atlas dan terbitan pemerintah.

Terbitan pemerintah merupakan terbitan oleh pemerintah, dibiayai oleh anggaran negara berisi tentang kegiatan pemerintah, tugas, fungsi badan pemerintah serta pengumuman berbagai produk perundang-undangan.

MODUL 7
PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA

Kegiatan Belajar 1

Pengatalogan
Sesudah buku diterima di perpustakaan, buku kemudian dicatat dalam buku induk atau dalam bentuk lain. Setelah itu buku diolah, artinya dibuatkan katalog termasuk pembuatan kartu utama dan kartu tambahan serta pemberian nomor klasifikasi.

Kegiatan yang berkaitan dengan data yang terdapat pada buku disebut deskripsi bibliografi, dikenal pula dengan istilah katalogisasi, pengkatalogan maupun pengatalogan. Dalam deskripsi bibliografi, Anda harus menentukan pengarangnya, judul, edisi, keterangan tentang penerbitan, dikenal pula dengan nama impresum, pencatatan fisik seperti jumlah halaman, keterangan tentang ilustrasi, tinggi buku, semuanya disebut kolasi; penentuan seri serta penentuan jejakan.

Untuk membuat tajuk Anda menggunakan pedoman penentuan tajuk entri utama, baik menggunakan pedoman terbitan Indonesia maupun AACR 2. Untuk deskripsi lain, Anda menggunakan standar dengan nama International Standard for Bibliographic Description (Monograph), disingkat ISBD (M). Dari sini Anda membuat entri katalog lengkap, dikenal pula dengan nama kartu utama. Dari keterangan jejakan yang ada pada kartu utama, Anda membuat kartu tambahan. Gunanya jejakan ialah bila buku hilang atau rusak, maka katalog harus dicabut dari laci katalog. Pencabutan ini menggunakan pedoman kartu utama, karena dari kartu utama Anda dapat melacak kartu tambahan yang dibuat.

Kegiatan Belajar 2
Klasifikasi
Klasifikasi adalah pengelompokan berbagai benda menurut karakteristik tertentu. Klasifikasi yang digunakan di perpustakaan bukanlah klasifikasi ilmu pengetahuan, melainkan klasifikasi untuk pengetahuan yang direkam dalam bentuk buku. Sebelum muncul klasifikasi modern, perpustakaan menggunakan sistem klasifikasi buatan sendiri seperti pengelompokan buku menurut warna buku, warna punggung buku, menurut tebal tipisnya buku, menurut tinggi buku. Susunan demikian memang enak dipandang mata namun tidak mampu mengelompokkan buku menurut subjek yang sama. Maka muncullah klasifikasi khusus untuk buku di perpustakaan seperti Klasifikasi desimal Dewey, dikenal dengan singkatan DDC atau Dewey Decimal Classification. Ada pula UDC singkatan dari Universal Decimal Classification, Library of Confress Classification. Dari kesemua klasifikasi yang ada, maka klasifikasi yang paling populer di Indonesia adalah klasifikasi Dewey.

DDC terbagi atas sepuluh kelas utama, setiap kelas dibagi lagi menjadi sepuluh divisi, setiap divisi dibagi lagi menjadi sepuluh subdivisi dan seterusnya. Pembagian tersebut dilakukan secara desimal.

Angka yang digunakan sebagai wakil sebuah subjek disebut notasi. Notasi terbagi dua, yaitu notasi murni (hanya menggunakan angka atau huruf saja) dan notasi campuran, merupakan gabungan antara angka dan huruf.

Dalam kaitannya dengan klasifikasi, maka penyusunan buku di rak juga menurut nomor klasifikasi. Pengecualian akan hal ini terdapat pada buku referens yang disusun pada rak untuk buku rujukan disertai tanda huruf R; buku fiksi yang dikelompokkan pada buku fiksi dengan tanda F; buku biografi yang dikumpulkan menurut orang/tokoh yang dibuat biografi dengan tanda B; buku yang berukuran lebih dari 30 cm, ditempatkan pada buku berukuran lebih dari 30 cm, dikenal sebagai oversize books, lazimnya diberi tanda f dari kata Folio.

MODUL 8
PERATURAN DESKRIPSI BIBLIOGRAFI

Kegiatan Belajar 1
Deskripsi bibliografi
Pembuatan deskripsi bibliografi bertujuan dan menyediakan data tentang buku (lazim disebut data bibliografi) bagi pemakai perpustakaan. Untuk memperoleh keseragaman maka pustakawan harus menggunakan peraturan deskripsi yang seragam. Peraturan ini merupakan hasil kerja sama berbagai instansi seperti Perpustakaan Nasional, Ikatan Pustakawan, lembaga pendidikan pustakawan serta berbagai pihak yang berkepentingan.

Deskripsi bibliografi terbagi atas tujuh daerah, yaitu daerah (1) judul dan pengarang, (2) edisi, (3) penerbitan, (4) keterangan fisik, (5) seri monografi, (6) catatan, dan (7) ISBN dan harga.

MODUL 9
TAJUK ENTRI UTAMA
Kegiatan Belajar 1
Tajuk Entri Utama
Sebuah katalog terdiri dari dua bagian utama ialah bagian tajuk serta bagian deskripsi bibliografi. Bagian deskripsi bibliografi dibuat berdasarkan peraturan ISBD (M) sedangkan bagian tajuk dibuat berdasarkan peraturan penentuan tajuk.

Dalam katalog dikenal adanya kartu utama artinya kartu yang merupakan dasar untuk pembuatan kartu tambahan. Kartu utama ini terdiri dari tajuk entri dan bagian deskripsi bibliografi. Karena merupakan entri dari kartu utama maka tajuknya disebut tajuk entri utama. Dari kartu utama dapat dibuat kartu tambahan berupa pengarang, kartu judul, kartu subjek, kartu seri. Penentuan entri tambahan ini, khusus menyangkut pengarang diatur dalam peraturan penentuan entri. Penentuan kartu tambahan untuk judul dan seri sudah merupakan keharusan sehingga tidak dibahas dalam peraturan penentuan entri.

Bila sudah dibuatkan kartu, maka kartu tersebut dijajarkan. Penjajaran ini dapat berdasarkan kata demi kata atau huruf demi huruf.

Kegiatan Belajar 2
Penjajaran
Penjajaran selalu digunakan di perpustakaan karena perpustakaan selalu menggunakan pendekatan pengarang dan judul serta subjek. Kartu untuk pengarang dan judul dijajar di katalog. Untuk kartu subjek penyusunannya dapat terpisah dapat pula menjadi satu dengan kartu pengarang dan judul.

Guna memudahkan penjajaran maka diperlukan peraturan penjajaran. Di perpustakaan terdapat berbagai macam peraturan penjajaran, lazimnya menganut penjajaran menurut huruf demi huruf atau kata demi kata.

Penjajaran berkaitan dengan pengindeksan. Dalam pengindeksan dikenal beberapa jenis indeks seperti indeks berangkai, indeks kata kunci, indeks sitasi dan indeks bernama PRECIS.

lebih lengkap lihat: Sulistyo-Basuki.Pengantar Ilmu Perpustakaan.Jakarta: UT, 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar